Sunday, March 28, 2010
Antara Hujan, Pohon Dan Rumput Kecil

Akhir Februari yang mendung dan hujan. Beberapa hari mentari selalu malu-malu dalam kemunculannya dan tidak pernah benar-benar menghangatkan. Bahkan beberapa hari lalu, hujan turun (bisa dibilang) seharian di Kairo. Tidak biasanya. Bahkan kali pertama seingatku hujan yang berlama-lama itu. Yah, seingatanku saja karena ingatan yang tidak tertuliskan akan terkikis juga oleh lupa. Maka sekali lagi kuingatkan; akhir Februari yang mendung dan hujan.


Hujan selalu saja menimbulkan perasaan yang berbeda. Terkadang hujan membuat kita nyaman, seperti Kamis pagi itu; aku dengan nyaman menikmati hujan di jalanan kota Kairo. Tapi hujan yang tak juga berhenti membuatku merasa mulai kehilangan rasa (ny)aman; tidak bisa pergi ke mana-mana, jalanan becek dan bisa dipastikan banjir di jalanan meski tidak sampai pada tingkat bencana alam. Oh, aku lupa. Hujan seharian hari itu menimbulkan beberapa kecelakaan di luaran Kairo. Benar-benar tidak (ny)aman.


Aku jadi teringat tentang sebuah riwayat tentang sebuah hujan, pohon dan rumput. Seperti sebuah kesemestian, maka kehidupan benar-benar seperti hujan, pohon dan rumput. Kau hanya tinggal memilih; menjadi pohon atau rumput saat ada hujan.


Aku teringat dulu yang sudah lama itu, sewaktu aku berjalan di bawah rindangnya pepohonan di tepian sungai. Di sana, yang jauh dari sini itu, ada banyak pohon besar yang entah sudah berapa lama ditanam dan hidup di tengah-tengah keramaian kota itu (sugai besar itu berada di tengah-tengah kota dan membelahnya menjadi dua, atau lebih mungkin). Semakin besar, semakin tinggi dan dengan dahan, cabang, ranting serta dedaunan yang rimbun menyejukkan. Yah, sangat menyejukkan di antara gelap asap-asap kendaraan di sekitaran.


Dan di sekitar pohon-pohon besar itu, selalu ada saja rerumputan tumbuh seperti sedang bersembunyi dari terik mentari musim panas yang menyengat. Berlindung di bawah rindang dedaunan pohon-pohon besar itu. Tidak. Rerumputan yang (ternyata) juga ditanam itu tidak menganggu pemandangan sama sekali. Justru semakin membuat indah sekitaran tempat pohon tertanam.


Pohon yang semakin lama semakin tinggi itu, tentu saja semakin banyak mengalami ujian. Hujan yang deras, kilatan petir, lalu angin yang begitu kencang bisa saja membuat ia patah, jatuh lalu tersungkur ke tanah. Dan kau tahu bukan, ketika ada pohon tinggi besar yang tersungkur, bisa-bisa ia menjatuhi rumahmu, paling tidak menghalangi jalan, dan yang paling apes tentu saja merenggut nyawamu ! Itu dengan catatan; ia gagal menghadapi ujian yang pasti datang itu. Kalau ia berhasil, tentu saja ia akan tetap menyejukkanmu dan menaungimu dari terik matahari. Tentu kau masih ingat kata orang-orang yang lama sebelum kita itu kan; semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin yang menerpa.


Lalu si rumput, sepertinya ia tenang-tenang saja dengan hujan badai yang tak tentu itu. Ia masih saja nyaman menikmati hidupnya di bawah pohon. Mungkin ia sedang berpikir; hujan deras telah dihalangi pohon terlebih dahulu sebelum menjatuhiku, angin di bawah tak mungkin sekencang di atas, lalu petir…Ia akan menyambar apa saja yang lebih tinggi. Dan itu bukan aku tentunya. Tapi sepertinya ia lupa; ia hanya berlindung, ia hanya berada di bawah. Ketika si pohon tumbang, bukan tidak mungkin si pohon akan menjatuhinya dan membuatnya mati. Bukan tidak mungkin pejalan-pejalan kaki akan menginjaknya sampai ia mati. Bukan tidak mungkin ia akan sewaktu-waktu tercerabut dari tanah dan itu dengan sangat mudah. Ia hanya berada di bawah, ia hanya berlindung.


Nah, sekarang aku tegaskan dan aku ingatkan lagi padamu. Kau yang memilih; mau menjadi seperti pohon yang menjulang tinggi besar, atau menjadi rumput yang biasa-biasa saja. Menjadi pohon artinya kau harus menjadi 'orang tidak biasa' yang mau dan mampu mengayomi sekitar dengan segala apa yang bisa kau berikan. Tetapi jangan lupa, jika kau gagal menghadapi cobaan, aku bisa pastikan kau akan begitu merepotkan sekitarmu. Atau menjadi rumput saja? Yang biasa-biasa saja, tidak banyak merepotkan tetapi juga tidak dianggap, mudah terinjak dan dengan mudah bisa tercerabut dari tanah? Semua terserah padamu saja.


Tabik.


Qatameya, 1 Maret 2010



NB: aku kira musim akan berganti menjadi panas, ternyata justru dingin tak juga mau pergi.

 
posted by elchecago at 6:17 AM | Permalink | 0 comments
Wednesday, March 03, 2010
Tentang 'Jodoh';
bahwa sesuatu yang sudah di atur Tuhan sekalipun harus diusahakan
Besok ada ujian bahasa Inggris sementara aku belum punya bukunya. Jangankan mempunyai, melihat diktatnya saja belum. Semua karena beberapa waktu lalu ada pengumuman di kuliah bahwa ujian bahasa Inggris untuk orang luar Mesir ditiadakan. Bahkan jadwal yang tertempel di kuliah sekalipun jelas-jelas tertulis khusus untuk orang Mesir.

Menyusul kemudian beberapa hari lalu, waktu aku ujian tanggal 12, ada pengumuman susulan bahwa ujian bahasa Inggris untuk orang Mesir dan luar Mesir yang berbahasa Arab. Artinya, ada perkembangan yang belum final dan sewaktu-waktu bisa kembali berubah. Dan sampai hari itu aku masih tenang-tenang saja karena tetap tidak akan diujikan.

Tiba-tiba saja ada berita bahwa bahasa Inggris akan diujikan untuk semua mahasiswa; Mesir, non-Mesir yang berbahasa Arab maupun yang tidak. Terang saja kabar ini membuatku sedikit gelagapan dan kelimpungan. Yah, sedikit saja karena memang bahasa Inggris bisa dianggap pelajaran yang paling mudah oleh mahasiswa asing, khususnya Indonesia. Tapi tidak bagi orang Mesir tentunya. Dan yang perlu dicatat adalah; aku sama sekali tidak meremehkan pelajaran ini. Hanya saja dibanding dengan mata kuliah yang lain, bahasa Inggris adalah yang paling mudah. Itu saja catatannya.

Akhirnya, hari ini aku meminta seorang kawan membelikan buku bahasa Inggris dan aku akan mengambilnya di H-10. Setelah Ashar aku pergi ke H-10 sekaligus mencari tahu hal-hal yang penting mengenai pelajaran ini. Sekitar jam delapan malam aku pulang, kembali ke rumah.

Di halte akhir, aku lihat ternyata bus 69 jurusan Qatameya sudah penuh dan terpaksa aku menunggu bus selanjutnya. Karena malas menunggu lama, akhirnya aku naik bus lain dengan resiko mesti pindah di tengah jalan. Kupikir tidak mengapa, setidaknya itu pilihan yang lebih baik daripada menunggu lama di halte dan kedinginan. Setelah aku naik, tiba-tiba ku lihat ada 69 lain yang sudah nyaris penuh dan hampir berangkat, seketika itu juga aku turun dan pindah bus. Tapi ternyata bus berhenti dulu agak lama, sekitar 10 menit sambil menunggu penumpang penuh. Dan aku jenuh ketika kembali menunggu seperti ini. Lalu ketika ku lihat ke jendela, ada bus 73 dengan jurusan sama, Qatameya. Akhirnya aku putuskan turun dan mengejar bus 73 itu. Masih ada beberapa tempat kosong dan pasti akan langsung berangkat.

Tidak aku duga, ternyata bus 73 yang aku naiki ketika pulang adalah bus yang sama dengan yang aku naiki ketika berangkat. Dan seketika itu juga aku mengamini kata pepatah; jika sudah jodoh tidak akan ke mana. Akan tetapi ada yang perlu digaris-bawahi; bahwa jodoh yang tidak akan ke mana sekalipun harus diusahakan, harus diperjuangkan. Seperti ketika aku berpindah dari satu bus ke bus yang lainnya sampai pada akhirnya menaiki bus yang sama dengan yang aku naiki ketika berangkat.

[Kairo sedang musim dingin dan aku berada di tengah ujian dan berpikir tentang jodoh...Hahaha]


Qatameya
18 Januari 2009










 
posted by elchecago at 10:05 PM | Permalink | 0 comments