Thursday, September 20, 2007
Berharap Kita Sama II
Seharusnya kau sadar;
ada yang terjadi saat itu

Seharusnya kau sadar;
ada sebuah pelangi di matamu

Seharusnya kau sadar;
ada setitik embun di wajahmu

Seharusnya kau sadar;
ada rasa hinggap di dadaku

Seharusnya kau sadar;
ingin ku titipkan rindu di hatimu
 
posted by elchecago at 3:49 PM | Permalink | 0 comments
Thursday, September 13, 2007
Ramadhan
engkau seperti embun
yang menetes di pagi hari
menyejukkan penghuni bumi

engkau seperti oase
di tengah-tengah padang pasir
menghapus dahaga sang musafir
 
posted by elchecago at 11:42 AM | Permalink | 0 comments
Friday, September 07, 2007
Lelaki Tua
Lelaki itu sendiri; dalam kesendirian. Duduk di bawah pohon rindang berlindung dari terik yang menyengat begitu hebat di tengah musim panas. Tatapannya menerawang jauh, menelusuri jejak langkah yang ia toreh, menapaki rentang ruang waktu yang ia tinggal lalu.

Entah sudah berapa petang ia selalu mengerang kesakitan. Semua berakhir dengan ketidakpastian. Entah sudah berapa purnama meringkuk dalam nestapa. Semua berakhir gelap gulita. Entah sudah berapa masa luka senantiasa menghiasi hatinya. Semua berakhir tanpa ada bahagia ia rasa. Entah sudah berapa waktu berlalu, rindunya selalu berakhir pilu. Semua berakhir tak menentu.

Kini ia hanya menatap penuh harap untuk esok yang ingin ia kecap; semoga esok masih cukup bersahabat untuk sebuah mimpi ia coba ia semai.
 
posted by elchecago at 2:43 PM | Permalink | 0 comments
Saturday, September 01, 2007
Tentang Waktu
Akhirnya si Kancil terduduk, menyeka keringat di mukanya. Ia berpikir keras, sama sekali tak mengerti; bagaimana si Kancil yang cerdik kalah beradu lari dengan si Siput yang jalannya begitu lambat; bagaimana setiap kali ia berlari dan memanggil Siput di belakangnya, Siput selalu menjawab di depannya. Si Kancil yang cerdik, yang mampu mengalahkan buaya dan singa si raja hutan, kalah oleh Siput...? Ngaak bisa..!!! Pikir Kancil dalam hari; heran, penasaran, dengan marah yang membuncah.

Bersama teriakan keras di dalam hatinya, si Kancil segera berlari kencang, sekencang-kencangnya, sekali lagi dan lagi sampai napasnya habis terengah-engah. Lalu ia menengok ke belakang dan memanggil Siput. Siput pun menjawab, "Di sini, Cil..!!". Sekali lagi Siput sudah di depannya. Akhirnya ia sadar tak bisa mengalahkan si Siput.

Pada akhirnya, ia hanya duduk dan mengetik. Mengetik cerita tentang dirinya dan si Siput yang beradu lari. Ia mengetik kekalahannya dengan penuh kesadaran. "Agh, siapa yang begitu pandai menulis cerita ini? Cerita yang mampu mengalahkan kecerdikan dan kepandaianku...?", "Siapa ia yang mampu menyembunyikan waktu di balik Siput..?". Pikir Kancil.

Cerita-cerita jaman modern pun tak bisa membuat cerita semacam itu, manusia yang cerdik melawan waktu dengan detik-detiknya yang berjalan pelan. Akhirnya, Kancil mengaku bodoh, dan tak mau lagi bersepakat untuk berlomba melawan waktu. Ia biarkan waktu berjalan sendiri, sedang ia berlari sendiri juga.

Tidak, ia tidak mau berlomba lari lagi. Ia tak mau bertat-tet-tot di perempatan jalan supaya manusia-manusia lain juga mempercepat jalannya. Ia tak mau menyusul yang meyalipnya. Biar saja!

Ia hanya mengetik, dan mengetik keheranannya terhadap siput waktu, lambat berjalan tapi tak terkalahkan.
 
posted by elchecago at 1:40 PM | Permalink | 0 comments